Zamzam
100 Sunnah Nabi saw yang Sering Diremehkan
Penulis: Haifa Abdullah Ar-Rasyid
Tebal: 312 halaman.
Harga: Rp. 44.500, -
R asulullah saw. adalah suri tauladan dan panutan bagi umatnya. Allah Ta”ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab [33] : 21). Sehingga, seluruh sisi kehidupan beliau merupakan contoh bagi umatnya. Bahkan, secara khusus, Allah l menjelaskan bahwa bukti cinta hamba kepada-Nya adalah dengan mengikuti Rasul-Nya. Allah Ta”ala berfirman, “Katakanlah, ”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali ”Imran [3] : 31). Dan, salah satu wasiat Rasulullah saw. kepada umatnya adalah berpegang teguh dengan sunnah-sunnah beliau. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup nanti, akan melihat banyak perselisihan. Maka, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang eratlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Namun, sayang seribu sayang, banyak orang yang sedikit demi sedikit mulai menjauhi dan meninggalkan sunnah-sunnah Nabi saw.. Dengan berbagai alasan, yang kadang hanya dibuat-buat, mereka sering kali meremehkan sunnah-sunnah manusia terbaik, Muhammad saw.. Bahkan, sampai ada yang memusuhinya, sehingga memandang orang-orang yang berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Nabi sebagai orang kolot dan terbelakang. Padahal, Rasulullah saw. telah menegaskan, “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku, sehingga para manusia mengamalkannya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang mengamalkanya, tiada berkurang sedikitpun pahala mereka.” (HR. Ibnu Majah
Imam Ahmad suatu ketika melihat seorang pria menyemir jenggotnya yang telah beruban dengan inai atau daun katam. Maka, Imam Ahmad menyapanya dengan ramah dan wajah berseri-seri, “Semoga Allah merahmatimu. Engkau telah menghidupkan sesuatu yang mati; yaitu menghidupkan sunnah mengubah warna uban dengan inai atau katam.”
Buku ini menguraikan sejumlah sunnah Nabi saw. yang sering kali diremehkan atau bahkan ditinggalkan. Dilengkapi dengan dalil-dalil yang kuat nan akurat menjadikan buku layak menjadi pedoman sekaligus panduan




