Zamzam

Jasad Syuhada Tak Membusuk

Posted at 21 Juni 2011 | By : admin | Categories : Zamzam | 0 Comment

Penulis: Dr. Abdul Hamid Al-Qudhah

Tebal: 180 halaman.

Harga: Rp.31.500, -

M uhammad bin Ka’ab Al-Quradhi mengatakan, “Aku menemui Umar bin Abdul Aziz ketika ia telah menjadi khilifah. Tubuhnya kurus dan warna kulitnya pucat. Padahal setahuku, ketika ia menjadi pemimpin kami di Madinah dulu, tubuhnya bagus dan cukup gemuk. Lantas, aku memandangnya lekat-lekat, hampir aku tidak berkedip. Maka, ia bertanya, ‘Wahai Ibnu Ka’ab, kenapa engkau memandangku seolah-olah engkau belum pernah melihatku?’ ‘Aku heran dengan Anda,’ jawabku. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang engkau herankan?’ ‘Tubuh Anda yang kurus dan warna kulit Anda yang pucat,’ jawabku. Ia pun berkata, ‘Andai engkau melihatku di dalam kubur setelah tiga hari dimakamkan, ketika mataku meleleh hingga menyentuh tulang pipiku, hidung dan mulutku dipenuhi ulat dan nanah, pasti engkau lebih tak percaya ketimbang hari ini’.” Seolah-olah Umar bin Abdul Aziz ingin menggambarkan apa yang dialami mayat pada tiga hari pertama di dalam kubur seperti perubahan fisik dan digerogotinya tubuh oleh pasukan larva.

Ilmu kedokteran telah mampu mendeteksi proses-proses pembusukan mayat (degradasi organisme) di dalam kubur, sejak ruh meninggalkan tubuh hingga tubuh berubah menjadi gas, cairan, dan amonia. Firman-Nya,  “…Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya.” <(Al-A’raf [7] : 29). Mikroba bekerja bersama pihak lain dalam menyelesaikan tugas ini, khususnya mikroba-mikroba anaerob yang hidup di dalam usus manusia, enzim-enzim yang terlepas dari sel-sel setelah tubuh meninggal, dan larva-larva tanah yang berkemban biak dengan sangat cepat. Mereka semua menggerogoti sel-sel mayat dengan sangat lahap.

Namun, fenomena ini tidak ‘berlaku’ pada jasad syuhada. Tubub mereka masih tetap utuh dan ‘kebal’ terhadap bakteri-bakteri pembusuk tersebut, meski telah terkubur berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun lamanya. Seakan-akan, mereka masih hidup berada di tengah-tengah kita. Benarlah apa yang disampaikan oleh Allah Ta”ala, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.” (Ali ‘Imran [3] : 169).

Sejarah telah menjadi saksi akan keutuhan jasad mereka dan tetap akan bertutur kepada manusia mengenai kondisi mereka. Sungguh mengagumkan, buku ini seakan-akan membelalakkan mata kita menyaksikan keagungan Allah Ta”ala yang ditetapkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Secara runtut, penulis memaparkan bagaimana kehidupan tentara-tentara Allah yang bernama mikroba dalam menjalankan tugas super besar, meski bentuk mereka super kecil, dalam membusukkan jasad manusia. Namun, di hadapan para tentara Allah yang berjuang di jalan-Nya, seakan-akan tentara tak kasat mata ini bertekuk lutut, atas ijin Allah, tak mampu berbuat apa-apa.

Leave a Comment